Kini hadir CUKURO cukur pria bergaransi
Adapun informasi tentang cukuro bisa japri ke saya.
Biaya Franchise MURAH. terutama daerah JAWA TIMUR
WARUNG KITA, CUKURO, BASO KITA, SIOMAY KITA, ESCOBAR, WK KATERING, PERCETAKAN BAROKAH, RIZKY BABY SHOP, RIZKY FASHION. Wujudkan kerjasama syariah dengan kami.
Jumat, 23 Desember 2011
Kamis, 22 Oktober 2009
Feature of TQM Methodology
Feature of TQM as Methodology
Prof. Yukihiro Ando. Murid/Penerus dari Kano-Seinse , Juga Anggota organisasi ISO dari jepang.
1. Tidak ada hal baru atau luar biasa dari TQM – Semua isi dari TQM adalah common sense
2. Didalam TQM tidak ada tools yang baku / prosedur / ataupun official.
3. Tidak semua yang pas di satu perusahaan akan pas di perushaan yang lain.
4. Tidak ada “correct way” tetapi yang ada adalah banyak “wrong Way”
4 Item tersebut member tau bagaimana mengenali TQM.
Setiap perusahaan menerapkan tools yang bias jadi berbeda satu dan lainnya.
AOTS memberikan salah satu contoh presentasi dari Komatsu yang telah mendapatkan Deming Price / Penghargaan dari Committee di jepang atas penerapan Quality Control /TQM
Kunci dari item (1) Tidak ada hal baru dalam TQM. Jadi ketika kita bicara TQM beberapa klausul dari ISO 9001 telah mencakup, custumer focus misalnya telah menjadi salah satu dari 8 prinsip dalam ISO 9001. TQM Menggaris bawahi bahwa lakukan hal yang tidak asing (hal yang sederhana) ini dengan benar. Maka hasil yang benar akan kita dapatkan
Prof. Yukihiro Ando. Murid/Penerus dari Kano-Seinse , Juga Anggota organisasi ISO dari jepang.
1. Tidak ada hal baru atau luar biasa dari TQM – Semua isi dari TQM adalah common sense
2. Didalam TQM tidak ada tools yang baku / prosedur / ataupun official.
3. Tidak semua yang pas di satu perusahaan akan pas di perushaan yang lain.
4. Tidak ada “correct way” tetapi yang ada adalah banyak “wrong Way”
4 Item tersebut member tau bagaimana mengenali TQM.
Setiap perusahaan menerapkan tools yang bias jadi berbeda satu dan lainnya.
AOTS memberikan salah satu contoh presentasi dari Komatsu yang telah mendapatkan Deming Price / Penghargaan dari Committee di jepang atas penerapan Quality Control /TQM
Kunci dari item (1) Tidak ada hal baru dalam TQM. Jadi ketika kita bicara TQM beberapa klausul dari ISO 9001 telah mencakup, custumer focus misalnya telah menjadi salah satu dari 8 prinsip dalam ISO 9001. TQM Menggaris bawahi bahwa lakukan hal yang tidak asing (hal yang sederhana) ini dengan benar. Maka hasil yang benar akan kita dapatkan
Selasa, 15 September 2009
BELAJAR

"Belajar"Bagi sebagian orang hampir setengah dari hidupnya dihabiskan untukbelajar, dan umumnya semua orang beranggapan bahwa masa belajar telahusai begitu mereka telah lulus kuliah dengan gelar sarjana, sedangkanbagi saya sendiri belajar tidak akan pernah selesai sampai padawaktunya saya tidak hidup di dunia ini lagi.Metafora hidup bagi saya adalah bahwa hidup merupakan suatupembelajaran. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa selama kita hidup,maka kita selalu belajar. Dimulai dari sejak Anda dilahirkan sampaiAnda menjadi tua, Anda belajar untuk berjalan, berbicara, memabaca,menulis, berkomunikasi dengan orang lain, cinta, patah hati,kehilangan, bekerja, berkeluarga, menjadi orang tua, menjadi kakekatau nenek dan seterusnya. Dan siklus ini telah berlangsung selamaribuan tahun. Disadari atau tidak setiap hari Anda akan belajarsesuatu yang baru. (Anonim)
Sabtu, 16 Mei 2009
MARKETING IN CRISIS
RESENSI BUKU
Bukan hanya Tahan hadapi krisis, Tapi Dapatkan ”Manfaat &Peluang”Marketing In Crisis
Karya : Rhenald Kasali
Judul : Marketing in Crisis
Terbitan : Gramedia pustaka utama
Tebal : 206 Halaman
Dunia Automotive adalah salah satu sector yang terkena efek krisi global yang serius, sampai sampai dari big three GM, Daimler C, Ford bahkan Toyota mendeklarasikan kesulitan keuangan & kerugian mereka.
Dimanapun krisis akan menghajar sisi revenue dari perusahaan, dan faktor penting dari revenue adalah kreatifitas dan aktifitas pemasaran. Bila perusahaan gagal di dalam pemasaran maka ini akan menggerogoti semua bagian lainnya.
Pengalaman Rhenald Kasali dalam beberapa perusahaan nasional dari berbagai krisis menunjukkan pentingnya sebuah therapy untuk memanfaatkan krisis dalam membangun kejayaan baru. Buku ini sepertinya adalah sharing pengalaman , pengetahuan dan teknik teknik marketing terapy yang layak untuk kita baca, uraiannya lugas namun untuk yang bukan orang marketing mesti buka kamus sesekali untuk memahami uraiannya.
Sisi gelap dari krisis telah membuat banyak perusahaan “tiarap” dengan melakukan pengurangan barang jadi, memangkas biaya, efisiensi, rasionalisasi dan efek samping krisis lainnya. Dalam bukunya Rhenald kasali mengurai dengan sangat baik, untuk memudahkan memahami kondisi krisis dengan urutan pemahaman yang enak dicerna.
Penekanan Kasali kali ini adalah bahwa dalam krisis ini yang perlu anda takuti bukanlah krisis keuangan global itu sendiri melainkan pikiran pikiran bahwa krisis itu akan melanda anda dan melemahkan marketing atau penjualan produk kita.
Karenanya Hadapi dan berlatihlah melawan krisis dan dapatkan manfaatnnya
Di balik awan ada matahari, dan di balik krisis yang ada ada banyak peluang untuk mengambil manfaat dari nya. Di saat banyak order, tidak banyak yang concern terhadap kualitas dan efesiensi lebih dari saat saat seperti ini, seakan tak ada waktu untuk evaluasi. Maka momentum seperti ini harus di sikapi dengan memperbaiki semua lini, hingga makin mantap berkompetisi dengan semua kompetitor di pangsa dalam negeri maupun untuk pasar eksport.
Walaupun mendapatkan situasi pasar tidak semudah kala semua berjalan normal dan ekonomi dunia bergairah kita tidak boleh patah arang & ada hal yang tak kalah penting yakni “marketing therapy” yaitu terapi untuk system pemasaran agar tim pemasaran memiliki keyakinan bukan untuk survive di tengah kompetisi melainkan untuk menciptakan pasar baru sehingga perusahaan bisa tetap tumbuh bahkan di masa krisis.
Dengan lugas Kasali menjelaskan hukum marketing di saat krisis bahwa ketika alam berubah hukum yang menyertainya pun harus di temukan kembali. Dan cara melihatnya di tandai dengan (i) toleransi pada hal hal paradoks/merendahkan, (ii) mengendurkan batas-batas ketidak leluasaan (iii) memberi ruang pada fleksibilitas (iv) perlunya mendrive perubahan secara terus menerus.
Konsep ini dalam kacamata Kasali akan membawa pada beberapa model pemasaran disaat krisis yang terdiri dari enam pendekatan, yaitu
Down Shifting, dimana di masa krisis konsumen telah berpindah dan beralih pada kelompok baru. Maka sudahkah anda melihatnya?
Downcosting, pengusaha selalu mencari alternative pembiayaan, mecari harga yang murah. Demikiankah untuk usaha anda?
Speedmarketing, mengembangkan cara baru agar lebih simple dan bekerja berorientasi pada kecepatan.
Positive marketing, upaya pemasaran untuk mendorong perilaku positif
Alighnment, startegi persatuan untuk memenangkan persaingan.
Empowering institution, menggerakkan simpul simpul intuisi untuk mengganti simpul logic yang telah menjadi kebiasaan (habit) dalam pemasaran.
Kalau bukan karena krisis tidak ada yang turun, tidak ada yang berubah, atau bergeser.
Ada masa bersenang senang & tak perduli, Ada masa kelabu dan bertafakur merenungi kembali arti kehidupan dan kesederhanaan.
Krisis bukanlah bencana atau keadaan darurat atau menjelang hancur dan mati, atau bayangan kegagalan yang terus mengikuti. Tapi krisis adalah turning point atau titik belok yang pada titik belok itulah kita harus ambil keputusan dan pilihan (a deciding event) sebab keputusan yang kita ambil akan menentukan dimana kita bermuara, keatas atau kebawah.
Resensi oleh : Ervan latuhari
Bukan hanya Tahan hadapi krisis, Tapi Dapatkan ”Manfaat &Peluang”Marketing In Crisis
Karya : Rhenald Kasali
Judul : Marketing in Crisis
Terbitan : Gramedia pustaka utama
Tebal : 206 Halaman
Dunia Automotive adalah salah satu sector yang terkena efek krisi global yang serius, sampai sampai dari big three GM, Daimler C, Ford bahkan Toyota mendeklarasikan kesulitan keuangan & kerugian mereka.
Dimanapun krisis akan menghajar sisi revenue dari perusahaan, dan faktor penting dari revenue adalah kreatifitas dan aktifitas pemasaran. Bila perusahaan gagal di dalam pemasaran maka ini akan menggerogoti semua bagian lainnya.
Pengalaman Rhenald Kasali dalam beberapa perusahaan nasional dari berbagai krisis menunjukkan pentingnya sebuah therapy untuk memanfaatkan krisis dalam membangun kejayaan baru. Buku ini sepertinya adalah sharing pengalaman , pengetahuan dan teknik teknik marketing terapy yang layak untuk kita baca, uraiannya lugas namun untuk yang bukan orang marketing mesti buka kamus sesekali untuk memahami uraiannya.
Sisi gelap dari krisis telah membuat banyak perusahaan “tiarap” dengan melakukan pengurangan barang jadi, memangkas biaya, efisiensi, rasionalisasi dan efek samping krisis lainnya. Dalam bukunya Rhenald kasali mengurai dengan sangat baik, untuk memudahkan memahami kondisi krisis dengan urutan pemahaman yang enak dicerna.
Penekanan Kasali kali ini adalah bahwa dalam krisis ini yang perlu anda takuti bukanlah krisis keuangan global itu sendiri melainkan pikiran pikiran bahwa krisis itu akan melanda anda dan melemahkan marketing atau penjualan produk kita.
Karenanya Hadapi dan berlatihlah melawan krisis dan dapatkan manfaatnnya
Di balik awan ada matahari, dan di balik krisis yang ada ada banyak peluang untuk mengambil manfaat dari nya. Di saat banyak order, tidak banyak yang concern terhadap kualitas dan efesiensi lebih dari saat saat seperti ini, seakan tak ada waktu untuk evaluasi. Maka momentum seperti ini harus di sikapi dengan memperbaiki semua lini, hingga makin mantap berkompetisi dengan semua kompetitor di pangsa dalam negeri maupun untuk pasar eksport.
Walaupun mendapatkan situasi pasar tidak semudah kala semua berjalan normal dan ekonomi dunia bergairah kita tidak boleh patah arang & ada hal yang tak kalah penting yakni “marketing therapy” yaitu terapi untuk system pemasaran agar tim pemasaran memiliki keyakinan bukan untuk survive di tengah kompetisi melainkan untuk menciptakan pasar baru sehingga perusahaan bisa tetap tumbuh bahkan di masa krisis.
Dengan lugas Kasali menjelaskan hukum marketing di saat krisis bahwa ketika alam berubah hukum yang menyertainya pun harus di temukan kembali. Dan cara melihatnya di tandai dengan (i) toleransi pada hal hal paradoks/merendahkan, (ii) mengendurkan batas-batas ketidak leluasaan (iii) memberi ruang pada fleksibilitas (iv) perlunya mendrive perubahan secara terus menerus.
Konsep ini dalam kacamata Kasali akan membawa pada beberapa model pemasaran disaat krisis yang terdiri dari enam pendekatan, yaitu
Down Shifting, dimana di masa krisis konsumen telah berpindah dan beralih pada kelompok baru. Maka sudahkah anda melihatnya?
Downcosting, pengusaha selalu mencari alternative pembiayaan, mecari harga yang murah. Demikiankah untuk usaha anda?
Speedmarketing, mengembangkan cara baru agar lebih simple dan bekerja berorientasi pada kecepatan.
Positive marketing, upaya pemasaran untuk mendorong perilaku positif
Alighnment, startegi persatuan untuk memenangkan persaingan.
Empowering institution, menggerakkan simpul simpul intuisi untuk mengganti simpul logic yang telah menjadi kebiasaan (habit) dalam pemasaran.
Kalau bukan karena krisis tidak ada yang turun, tidak ada yang berubah, atau bergeser.
Ada masa bersenang senang & tak perduli, Ada masa kelabu dan bertafakur merenungi kembali arti kehidupan dan kesederhanaan.
Krisis bukanlah bencana atau keadaan darurat atau menjelang hancur dan mati, atau bayangan kegagalan yang terus mengikuti. Tapi krisis adalah turning point atau titik belok yang pada titik belok itulah kita harus ambil keputusan dan pilihan (a deciding event) sebab keputusan yang kita ambil akan menentukan dimana kita bermuara, keatas atau kebawah.
Resensi oleh : Ervan latuhari
Kamis, 12 Maret 2009
BELAJAR DARI MATSUSHITA
MATSUSHITA, Reminder for spirit, hope, and dream. (Ervan)
Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa. Saat itu , General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut. Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan. Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan , menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudahpenuh dengan barang yang tidak terjual.Saat itu , Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo. Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang dimasa kanak-kanak , ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari , 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.Dengan punggung bersandar ke tembok rumah , Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya dating menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya?"Kurangi produksi separonya , tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja , tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari. Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah? Dalam situasi begitu , sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya , akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis, 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri. Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang , menangkapi semua pengusaha Jepang untukdiadili karena keterlibatan mereka selama perang. Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya.Maka Matsushita pun ikut ditangkap. Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita. Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnyamembebaskan Matsushita. Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun. Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu , George Bush ( Senior ), pun turut berduka. Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan.Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.Yang dikenang dari kita nanti *bukan* kehebatan, kesuksesan, kekayaan, dankemakmuran kita.Yang dikenang adalah kebaikan, keramahan, dan kemurah-hatian kita...
Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa. Saat itu , General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut. Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan. Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan , menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudahpenuh dengan barang yang tidak terjual.Saat itu , Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo. Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang dimasa kanak-kanak , ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari , 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.Dengan punggung bersandar ke tembok rumah , Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya dating menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya?"Kurangi produksi separonya , tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja , tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari. Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah? Dalam situasi begitu , sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya , akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis, 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri. Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang , menangkapi semua pengusaha Jepang untukdiadili karena keterlibatan mereka selama perang. Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya.Maka Matsushita pun ikut ditangkap. Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita. Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnyamembebaskan Matsushita. Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun. Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu , George Bush ( Senior ), pun turut berduka. Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan.Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.Yang dikenang dari kita nanti *bukan* kehebatan, kesuksesan, kekayaan, dankemakmuran kita.Yang dikenang adalah kebaikan, keramahan, dan kemurah-hatian kita...
Langganan:
Postingan (Atom)